SKRIPSI PENGARUH PEMBERIAN PGPR ( Plant Growth Promoting Rhizobacteria ) ASAL AKAR ALANG-ALANG DAN AKAR BAMBU TERHADAP PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH ( ALLIUM CEPA)
Author
Abstract
Bawang merah (Allium cepa) family Lilyceaeyang berasal dari Asia Tengah merupakan tanamanbumbu yang sangat penting di dunia, tanaman inisudah digunakan sejak jaman dahulu, keberadaantanaman ini di abadikan dalam Qur‟an Surat Al-Baqarah ; 61 yang berbunyi “Dan (ingatlah), ketikakamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar(tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebabitu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Bawang merahmerupakan komoditas sayuran yang mempunyaiprospek pengembangan yang cerah selain haltersebut bawang merah juga termasuk tanamanbernilai ekonomi yang tinggi kemudian sehinggakebutuhan akan bawang merah semakinmeningkat(Prakoso, Wiyatingsih, & Nirwanto, 2016)Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) adalah sejenis bakteri yang hidup dan berkembang di perakaran tanaman. Keberadaanmikroorganisme ini dapat memberi keuntunganterhadap pertumbuhan tanaman salah satunyayaitu dalam proses fisiologi tanaman dan sebagaiperangsang tumbuh bagi tanaman. PenggunaanPGPR dalam usaha pertanian dan digunakansebagai pupuk hayati yang dapat memberikansumbangan bioteknologi dalam budidaya tanamanuntuk meningkatkan produktivitas suatu tanaman. Hal tersebut dicapai dengan mobilisasi unsur hara, produksi perangsang tumbuh, memfiksasi nitrogen di udara dan mengaktifkan mekanisme ketahananterhadap serangan penyakit (Hamzah & Pasauran Jurusan Pertanian, 2020).tujuannya yaitu 1. Untuk mengetahui efektivitas penggunaanPGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) akar bambu dalam dosistertentu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman bawang merah(allium cepa L). 2. Untuk mengetahui efektifitas penggunaanPGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) akar alang-alang dalam dosistertentu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman bawang merah(allium cepa L). Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimendengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap(RAL) Non Faktorial dengan menggunakan faktordan diulang 3 kali. • A1U1 = Tanpa PGPR • B1U1 = PGPR bambu 7,5 ml/L (3,70 x 103 cfu) • B2U2 = PGPR bambu 10 ml/L (4,94 x103 cfu) • B3U3 = PGPR bambu 12,5 ml/L (6,17 x 103cfu) • B4U4 = PGPR bambu 15 ml/L (7,41 x 103 cfu) • L1U1 = PGPR akar alang alang 7,5 ml/L (3,05 x 103 cfu) • L2U2 = PGPR akar alang alang 10 ml/L (4,12 x 103 cfu) • L3U3 = PGPR akar alang alang 12,5 ml/L (5,15 x103 cfu) • L4U4 = PGPR akar alang alang 15 ml/L (6,18 x 103 cfu) akarbambu pada tanaman bawang merah sangat berpengaruh terhadap tinggi tanaman dengan yang paling tinggi adalah dosis 15 m/l mencapai 24 cm dan kontrol terdapat 15 cm. Pada minggu ketiga pemberianPGPR akar bambu pada tanaman bawang merahberpengaruh terhadap tinggi tanaman dengan yang paling tinggi adalah dosis 15 m/l dengan tinggi 35 cm dan terdapat control adalah 21 cm. Pada minggu keempat pemberian PGPR akar bambu pada tanamanbawang merah berpengaruh terhadap tinggi tanamandengan yang paling tinggi adalah dosis 15 m/l dengan tinggi 39 cm dan terdapat control adalah 29 cm. Pada minggu kelima pemberian PGPR akar bambu pada tanaman bawang merah berpengaruh terhadap tinggitanaman dengan yang paling tinggi adalah dosis 15 m/l dengan tinggi 49 cm dan terdapat control adalah 33 cm. Pada minggu keenam pemberian PGPR akarbambu pada tanaman bawang merah berpengaruhterhadap tinggi tanaman dengan yang paling tinggiadalah dosis 15 m/l dengan tinggi 49 cm dan terdapatcontrol adalah 38 cm.Dari semua penjelasan di atas, dapatdisimpulkan, berdasarkan hasil uji cobamenunjukkan bahwa perlakuan PGPR pada tanaman bambu dengan dosis tinggi memberikandampak signifikan terhadap pertumbuhan fisik dan jumlah anakan. Tanaman yang mengalamiperlakuan ini mengalami peningkatan yang nyatadalam hal tinggi dan jumlah tunas yang dihasilkan. Pengaruh positif ini dapat dianggap sebagai responstanaman terhadap stimulasi mikroorganisme yang diperkenalkan. Meskipun demikian, menariknya, hasil uji coba juga mencatat bahwa perlakuan initidak secara substansial meningkatkan pengisianumbi atau hasil produksi tanaman bambu. Hasil inimenunjukkan bahwa, meskipun terjadi peningkatanpertumbuhan awal, kinerja produksi tanaman belumsepenuhnya optimal. Dalam perbandingan denganperlakuan dosis tinggi PGPR pada tanaman alang-alang, terdapat perbedaan yang mencolok, dimanatanaman alang-alang dengan perlakuan serupamenunjukkan hasil produksi yang lebih tinggi, menyoroti kompleksitas interaksi antara jenistanaman dan mikroorganisme yang digunakan.