PENGARUH POC LIMBAH SAWIT DIPERKAYA MA-11 DAN PUPUK UREA TERHADAP HASIL PRODUKSI JAGUNG MANIS (zea mays l. saccharata).
Author
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil produksi jagung manis (Zea mays L. saccharata) melalui pemanfaatan limbah padat kelapa sawit sebagai Pupuk Organik Cair (POC) yang dikombinasikan dengan pupuk urea. Percobaan lapangan dilaksanakan di lahan Pondok Pesantren Darut Taqwa, Jenangan, Ponorogo, pada tanggal 25 Oktober–25 Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 × 2 dengan varietas jagung manis Golden Boy. Faktor pertama adalah POC limbah sawit yang terdiri dari K0 (tanpa POC), K1 (500 ml/petak), dan K2 (1000 ml/petak), sedangkan faktor kedua adalah pupuk urea yang terdiri dari U1 (2,5 g/tanaman) dan U2 (5 g/tanaman). POC dibuat dari 20 kg limbah padat sawit yang difermentasi selama 7 hari menggunakan MA-11, gula 2 kg, dan ragi tape. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun (15–60 HST), bobot segar dan bobot kering total tajuk (40–60 HST), Crop Growth Rate (CGR), berat dan diameter tongkol tanpa klobot, serta pH tanah awal dan akhir. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC limbah sawit dan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan produksi jagung manis. Kombinasi perlakuan terbaik menghasilkan tinggi tanaman hingga 227 cm (K2U2, 60 HST), jumlah daun 10,87 helai (K2U2), bobot segar total 777 g/tanaman (K1U1), bobot kering total 205 g/tanaman (K2U2), berat tongkol tanpa klobot 450 g (K1U2), dan nilai CGR 0,0045 g/g/hari. Interaksi K1U1 (POC 1000 ml/petak + urea 2,5 g/tanaman) dan K1U2 (POC 1000 ml/petak + urea 5 g/tanaman) memberikan respons paling sinergis terhadap pertumbuhan dan hasil, dengan pH tanah relatif stabil pada kisaran 7,8–8,3. Secara umum, aplikasi POC limbah sawit 1000 ml/petak yang dikombinasikan dengan urea 2,5–5 g/tanaman terbukti paling efektif meningkatkan pertumbuhan vegetatif (peningkatan 20–230% dibanding kontrol), produksi tongkol, dan serapan hara N melalui sinergi suplai hara makro–mikro serta aktivitas Rhizobium dalam MA-11.