SAWIT SEBAGAI BARGAINING POSITION INDONESIA DALAM MERESPONS PROTEKSIONISME AMERIKA DI ERA TRUMP TARIFF 2017-2021
Author
Abstract
Meningkatnya proteksionisme Amerika Serikat selama pemerintahan Donald Trump (2017–2021) melalui kebijakan America First dan Trump Tariffs telah menciptakan tekanan yang signifikan pada sistem perdagangan global, termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu sektor yang terkena dampak adalah industri kelapa sawit, yang sering menghadapi hambatan tarif dan non-tarif dengan dalih masalah lingkungan dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Indonesia menggunakan minyak sawit sebagai instrumen diplomasi ekonomi untuk memperkuat posisinya dalam merespon kebijakan proteksionis Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Data tersebut dianalisis melalui kerangka teori neorealisme dan Teori Permainan Dua Tingkat dan menggunakan konsep Islamisasi untuk menjaga keadilan. Data diperoleh melalui studi literatur dokumen resmi pemerintah, laporan lembaga internasional, publikasi akademik, dan data perdagangan dari UN Comtrade, BPS, dan GAPKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya merespon proteksionisme Amerika Serikat secara defensif, tetapi juga secara strategis dengan memanfaatkan keunggulan struktural dari komoditas kelapa sawit. Strategi ini diwujudkan melalui diversifikasi pasar ke kawasan Global South, penguatan diplomasi kolektif, hilirisasi industri kelapa sawit, dan penguatan standar keberlanjutan nasional seperti ISPO. Dengan demikian, kelapa sawit tidak hanya berfungsi sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi strategis dalam menghadapi dinamika proteksionisme global.