Perspektif Hifdzu Nasl dalam Kebijakan Jepang Mengatasi Krisis Demografi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Author
Abstract
Jepang menghadapi krisis demografi yang ditandai oleh penurunan angka kelahiran, peningkatan populasi lansia, dan penyusutan penduduk usia produktif. Pada periode pemerintahan Fumio Kishida merumuskan berbagai kebijakan demografi guna menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs khususnya nomor 8 pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana kebijakan demografi Jepang mendukung keberlanjutan generasi. Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif hifdzu nasl. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kebijakan atau policy analysis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap dokumen resmi pemerintah Jepang, laporan lembaga internasional, dan artikel jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan demografi Jepang cenderung lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja dan stabilitas ekonomi jangka pendek dibandingkan penguatan keluarga sebagai basis keberlanjutan generasi. Kebijakan parental leave lebih dievaluasi berdasarkan indikator ketenagakerjaan daripada penguatan institusi keluarga, child allowance terbatas dalam mengurangi beban ekonomi pengasuhan, childcare facilities mengalami ketimpangan kapasitas, dan kebijakan imigrasi bersifat sementara dan belum memberikan kepastian keluarga. Kebijakan demografi pemerintah Jepang masih terdapat kesalahan karena menempatkan persoalan keluarga dan keturunan sebagai isu administratif dan ekonomi. Kebijakan tersebut dari perspektif hifdzu nasl belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan generasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya perumusan kebijakan demografi yang lebih kuat, berorientasi jangka panjang, dan menempatkan keluarga sebagai fondasi utama keberlanjutan sosial.